Konsep Yang Digunakan Untuk Membangun City Branding

Konsep Yang Digunakan Untuk Membangun City Branding

CITY BRANDING

Konsep Yang Digunakan Untuk Membangun City Branding – Konsep The Power of Narsis ini dapat juga diterapkan untuk membangun city branding kawasan atau kota . Tentu saja sangat terkait dengan potensi yang dimiliki kota tersebut , seperti potensi wisata dan sebagainya . Oleh karena itu , diperlukan juga pemasaran destinasi wisata yang berbasis PDCA ( Plan , Do , Check , Action ) yang akan membenahi lima penunjang pokok yaitu aksesibilitas , amenity , atraksi wisata , aktivitas wisatawan , dan promosi wisata Aksesibilitas yang dilakukan oleh pemerintah bisa dilakukan dengan memperbaiki akses menuju tempat wisata dan prasarana yang mendukung. Demikian pula dengan amenity bisa dilakukan antara pemerintah dan himpunan pariwisata Indonesia ( HPI ) dengan melakukan pelatihan SDM dan masyarakat sekitar.

Baca Juga : Ini Dia Strategi Dalam Membangung Citra ( Branding )

Guiding yang cukup pengetahuan , dan memperbaiki fasilitas toilet umum di sekitar tempat wisata. Untuk atraksi wisata , sebaiknya melibatkan masyarakat sekitar dan menggandeng event organizer sehingga ada rasa saling memiliki Demikian pula dengan aktivitas wisata sebaiknya melibatkan travel biro yang sudah membuat program paket wisata Misalnya untuk membangun sebuah city branding kota Semarang Kota Semarang memiliki keanekaragaman budaya dan itu merupakan aset utama yang harus ditonjolkan. Dari sudut pandang wisata , hal itu merupakan daya tarik agar orang – orang berkunjung ke kota Semarang , keanekaragaman budaya ini memunculkan banyak variasi pada beberapa hal. Misalnya dilihat dari sudut

  • kesenian ,
  • peninggalan bangunan / arsitekturnya ,
  • religinya ,
  • kulinernya , dan
  • event lainnya .

Dari budaya juga bisa diketahui bahwa budaya yang ada di kota Semarang antara lain budaya

  • Jawa pesisir ,
  • Arab
  • China .

Baca Juga : Belajar Digital Marketing Dan Bisnis Online Sampai Menghasilkan

Simbol Warak Ngendog

binatang mitologis ini digambarkan sebagai simbol pemersatu tiga etnis mayoritas di Semarang. Bagian tubuh ikon terdiri atas naga ( Cina ) , burog ( arab ) , dan kambing ( Jawa ). Hewan ini biasanya dijadikan maskot dalam festival dugderan yang dilaksanakan beberapa hari sebelum bulan puasa. Terlepas dari siapa pembuat pertama , Warak Ngendog memiliki makna filosofi yang selalu relevan sebagai pedoman hidup manusia pada zaman apa pun. Wujud makhluk rekaan yang merupakan gabungan tiga simbol etnis mencerminkan persatuan atau akulturasi budaya di Semarang. Konon ciri khas bentuk yang lurus dari Warak Ngendog menggambarkan citra warga Semarang yang terbuka , lurus , dan berbicara apa adanya.  Sehingga tak ada perbedaan antara ungkapan hati dengan ungkapan lisan. Atraksi – atraksi wisata tahunan seperti Semarang Great Sale , Semarang Night Carnival , dan Dugderan juga sangat membantu upaya city branding.

Sumber : Benk Mintosih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares
error: Content is protected !!
%d bloggers like this: