Penetapan Tersangka Kegiatan Susur Sungai SMP Turi

Penetapan Tersangka Kegiatan Susur Sungai SMP Turi

Penetapan Tersangka Kegiatan Susur Sungai SMP Turi – Kegiatan susur sungai oleh pelajar SMP 1 Turi, Sleman, Yogyakarta di Sungai Sempor, Dusun Dukuh, Donokerto, Turi berakhir duka. Di saat kegiatan berlangsung, tiba tiba muncul arus deras. Peristiwa ini terjadi pada Jumat, 21 Februari pukul 16:00 kemarin. Sebanyak 249 siswa mengikuti kegiatan ini. Berikut update terbaru seputar SMP 1 Turi, kecelakaan dan fakta lain yang korbannya masih dalam proses evakuasi

Baca juga : Belajar Digital Marketing Dan Bisnis Online Sampai Menghasilkan

Delapan siswa meninggal dunia.

Satu tersangka ini berinisial IYA yang merupakan pembina sekaligus guru dari SMPN 1 Turi. Pernyataan ini diungkapkan oleh Kabid Humas Polda DIY, Kombes Yulianto. Penetapan tersangka ini setelah pihak kepolisian melakukan gelar perkara dan memeriksa 13 orang. Dimana terdapat tiga kelompok dalam pemeriksaan tersebut. ¬†Yakni tujuh pembina pramuka, tiga orang dari Kwarcab Pramuka Kabupaten Sleman, dan sisanya merupakan warga yang berada di sekitar tempat kejadian saat tragedi terjadi. Kabid Humas Polda DIY, Kombes Yulianto “Tadi siang Direktur Kriminal Umum Polda DIY sudah memimpin gelar perkara di Polres Sleman setelah kami melakukan pemeriksaan terhadap 13 orang,” jelasnya. “Dari pemeriksaan ini saksi-saksi ini, dari hasil gelar perkara menyimpulkan untuk menaikan status penyelidikan menjadi penyidikan,” ujarnya. “Maka kami juga sudah menentukan satu orang dengan inisial IYA sebagai tersangka,” tegasnya.

Baca Juga : Kasus Nikita Yang Menjadi Tersangka Penyiksaan Mantan Suaminya

Duka SMP Turi

Kegiatan Pramuka susur Sungai Sempor menyisakan duka mendalam. Beberapa peserta kegiatan susur sungai ini hanyut terbawa arus sungai akibat banjir. Salah satu siswa SMP Negeri 1 Turi yang menjadi peserta susur sungai, Ahmad Bakir, menceritakan, awalnya para peserta berkumpul di sekolah. Dari sekolah, mereka berangkat ke Sungai Sempor sekitar pukul 15.00 WIB. “Berangkat dari sekolah ke Kali Sempor itu sekitar jam 15.00 WIB,” ujar Ahmad Bakir saat ditemui di SMP Negeri 1 Turi, Jumat (21/2/2020). Siswa kelas 8 ini menyampaikan, saat berangkat dari sekolah kondisi hujan deras. Namun, ketika sampai di Sungai Sempor, hujan mulai reda. “Kegiatannya itu susur sungai. Saat reda kita turun ke sungai,” katanya. Awalnya, saat mulai susur sungai, Bakir berada di paling belakang.

Aksi Heroik Siswa

Bakir lempar akar Bakir menuturkan, saat banjir datang kebetulan, ia sudah berada di atas bibir sungai bersama temannya, Danu Wahyu. “Kalau yang hanyut saya tidak tahu, tapi ada yang tenggelam sempat ditolong teman saya (Danu),” bebernya. Ratusan siswa SMP N 1 Turi Sleman dilaporkan hanyut terbawa arus saat susur Sungai Sempor Sleman. Mengetahui kejadian itu, Bakir pun lantas berteriak agar teman-temannya tetap berpegangan yang erat pada sebuah kayu. Selain itu, ia juga meminta teman-temannya tidak panik. “Saya langsung cari akar yang panjang, lalu saya lempar ke teman yang di tengah. Satu-satu tarik ke pinggir, ada enam yang tadi saya tarik,” katanya. Bakir mengungkapkan, saat kegiatan susur sungai, ada pembina pramuka yang mendampingi. Posisinya berada di belakang dan tengah.

Danu Lompat Ke Sungai

Saat banjir bandang datang, lanjutnya, dia sempat melihat beberapa temannya tenggelam. Melihat hal itu, Danu spontan langsung melompat ke dalam sungai. “Lihat ada yang tenggelam terguling-guling, saya langsung lompat berenang. Saya tarik dua yang perempuan ke pinggir, sama satu yang (pegangan) batu di tengah (sungai),” ungkapnya. Seperti diberitakan sebelumnya, enam orang siswa meninggal dunia dan empat masih dalam pencarian setelah terseret arus Sungai Sempor, Dusun Dukuh, Desa Donokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman. Para siswa ini hanyut saat mengikuti kegiatan Pramuka susur sungai. Keluarga salah satu korban selamat dalam insiden Susur Sungai Sempor SMP 1 Turi mengungkapkan bahwa kegiatan pramuka pada Jumat (21/2/2020) itu dilakukan mendadak tanpa persiapan.

Kegiatan Dadakan

“Setiap Jumat memang ada jadwal pramuka, jadi waktu itu, kata adik saya yang ikut susur sungai, karena enggak ada kegiatan, ya diajak jalan-jalan saja,” ujar Fibri (30), kakak siswi kelas 8B SMPN 1 Turi Sleman berinisial FA (14), kepada SuaraJoga.id melalui sambungan telepon, Sabtu (22/2/2020). Menurut keterangan Fibri, karena kegiatan dilakukan secara mendadak, sama sekali tak ada persiapan maupun permohonan izin pada orang tua yang disiapkan pihak sekolah. Ia menerangkan, sebelum tiba di Sungai Sempor, para peserta susur sungai, yang terdiri dari murid kelas 7 dan 8, harus berjalan cukup jauh dari lokasi keberangkatan, yaitu SMPN 1 Turi. Namun, kemudian terdengar suara guntur, sehingga membuat sejumlah siswa, termasuk FA, khawatir. Lantas, lanjut Fibri, adiknya itu, bersama ketua dewan penggalang (DP), bertanya pada guru olahraga yang juga pembina kegiatan pramuka tersebut, apakah susur sungai tetap akan dilanjutkan.

Tetap Dilanjutkan Walau Hujan

“Saat itu gerimis, sudah terdengar suara guntur, murid-murid jadi takut kalau hujan. Terus ketua dewan penggalang tanya ke pembinanya, lanjut atau enggak, terus cuma dijawab ‘enggak apa-apa hujan sebentar’,” jelas Fibri. Dirinya menilai, guru olahraga yang disebutnya sebagai “Pak Y” itu nekat melanjutkan susur sungai meskipun cuaca mendung karena ia tinggal tak jauh dari sana. “Jadi mungkin [Pak Y] menganggap itu sudah biasa,” kata Fibri. Selain tak ada persiapan serta permohonan izin ke orang tua siswa, Fibri mengatakan, Susur Sungai Sempor juga dilakukan tanpa ada izin kepala dukuh setempat. “Padahal sudah diingatkan warga, enggak usah nyemplung, tapi ya namanya anak-anak, bagaimana sih, kalau disuruh pembinanya kan ya nurut-nurut aja,” jelasnya. Begitu sampai di Sungai Sempor, terang Fibri, murid laki-laki kelas 8 turun terlebih dahulu, diikuti para murid perempuan, yang berbaris di belakangnya.

Sudah Ada Firasat

Lalu, anak-anak laki-laki yang di depan merasakan tingginya air sungai. Untuk itu, mereka memperingatkan teman-temannya yang lain supaya naik lagi menjauh dari sungai. “Yang cowok pada turun duluan, terus merasa kok airnya meninggi, jadi mereka inisiatif memberi tahu yang lain buat tidak usah lanjut dan menepi dari sungai. Di adik saya sudah sebetis, rok pramukanya jadi basah,” ungkap Fibri. Namun, karena sudah telanjur, akhirnya air makin deras, dan para siswa berusaha saling menyelamatkan dengan berpegangan pada akar pohon atau batu di dekatnya. Pasalnya, tak ada perangkat pengamanan juga yang disediakan pihak sekolah dalam kegiatan susur sungai yang mendadak di cuaca yang tak bersahabat itu. Akibatnya, sejumlah siswa terluka, dan ada pula yang terbawa arus Sungai Sempor yang deras kala itu. FA sendiri, kata Fibri, mengalami luka memar karena terjepit batu. Tak hanya itu, hingga Sabtu FA masih mengalami trauma.

Merasakan Trauma Mendalam

“Kalau pas bareng-bareng gini dia ceria, bisa cerita, begitu masuk kamar, sendirian, dia nangis. Semalam enggak bisa tidur dan makan ini, teringat kejadiannya itu kata dia. Saya juga enggak berani nanya. Kalau dia cerita sendiri saja, saya dengarkan,” terang Fibri. Hingga kini, Fibri mengatakan, pihak sekolah mbelum memberi informasi lanjutan apa pun soal kegiatan belajar mengajar pascainsiden. Keberadaan Pak Y pun juga belum diketahui sampai saat ini. Pihak kepolisian telah menetapkan satu tersangka dalam tragedi susur Sungai Sempor, Sleman yang menghanyutkan ratusan siswa SMPN 1 Turi, Sleman, Yogyakarta.

  1. Kepala SMP 1 Turi tidak tahu ada kegiatan susur sungai

Susur sungai SMPN 1 Turi, Sleman, Jogja, terjadi tanpa izin sekolah seperti dikatakan Kepala Sekolah Tutik Nurdiana. Menurutnya, kegiatan ekskul SMP 1 Turi Pramuka tersebut rutin dilakukan dengan pembina yang sudah paham kondisi sungai. “Jujur saya tidak tahu ada program susur sungai yang dilakukan kemarin. Mereka tidak matur (bilang). Bagi kami karena siswa kebanyakan anak Turi dan mereka familiar dengan wilayah Turi, jadi itu seperti bukan hal yang khusus,” kata Tutik.

  1. Pencarian korban SMP 1 Turi dihentikan sementara

Menurut Wakapolda DIY Brigjen Karyoto, pencarian korban hilang SMPN 1 Turi, Sleman, akan dihentikan sementara. Meski begitu, pihak kepolisian akan tetap fokus menemukan korban yang belum terkonfirmasi. Penyelidikan akan dilakukan setelah proses pencarian terhadap korban SMPN 1 Turi selesai dilakukan. “Kita belum mengarah ke situ (penyelidikan) namanya juga insiden atau kecelakaan. Kita fokus dalam pencarian,” kata Karyoto.

  1. Jumlah korban SMP 1 Turi menurut data terakhir

Hingga dihentikan pada Sabtu (22/2/2020) ada 9 korban meninggal dunia siswa SMPN 1 Turi, Sleman yang telah ditemukan. Proses pencarian yang dibantu Basarnas ini kini mulai memasuki tahap identifikasi korban. Salah satu fasilitas yang menjalankan proses identifikasi korban adalah Puskesmas Turi. “Barusan masuk satu (jenazah) sekitar jam setengah 11 tadi, untuk kondisinya yang jelas meninggal karena dikantongi. Saat ini baru identifikasi,” kata Kepala Puskesmas Turi, Pinky Christina Dewi.

  1. Polisi turun tangan menangani laka sungai SMPN 1 Turi

Musibah hanyutnya siswa pada susur sungai SMPN 1 Turi, Sleman menjadi perhatian banyak pihak termasuk penegak hukum. Sebanyak 6 orang pembina Pramuka dan pendamping siswa saat susur sungai telah diperiksa polisi. Pembina Pramuka diduga berperan besar dalam perencanaan kegiatan susur sungai. “Kami sudah periksa para pembina pramuka yang ikut. Hasilnya (pemeriksaan) belum bisa disampaikan. Kami belum bisa menentukan siapa yang bisa tanggung jawab penuh. Nanti dengan proses yang hati-hati dan tidak buru-buru, ini masih pemeriksaan,” kata Kabid Humas Polda DIY Kombes Yuliyanto.

  1. Jumlah pembina Pramuka saat susur sungai diduga terlalu sedikit

Dalam kejadian SMPN 1 Turi susur sungai yang berujung kecelakaan ada 7 pembina Pramuka yang ikut bersama siswa. Menurut Ketua Kwarda Pramuka DIY GKR Mangkubumi, 7 orang pembina untuk 249 siswa terlalu sedikit dan jauh dari ideal. “Jumlah (siswa) yang dibawa (susur sungai) 200 lebih, hanya tujuh pendamping. Jadi tidak bisa meng-handle sekian banyaknya,” kata Mangkubumi. Mangkubumi mengatakan pihak kwarda akan memberikan sanksi terhadap pembina pramuka di SMPN 1 Turi jika terbukti bersalah. Pihaknya saat ini masih menunggu hasil pemeriksaan dari kepolisian. Mangkubumi menduga ada kelalaian dari pembina yang tidak mempertimbangkan kondisi cuaca saat susur sungai.

  1. Perhatian dari Menko Polhukam, Mendikbud, dan Mensos

Musibah SMPN 1 Turi mendapat perhatian dari Menko Polhukam Mahfud MD, Mendikbud Nadiem Makarim, dan Mensos Juliari P Batubara. Mahfud mengingatkan semua pihak tak punya prasangka buruk sambil menunggu hasil pemeriksaan dan evakuasi. Sementara Nadiem yang menyampaikan bela sungkawa meminta sekolah mengutamakan keamanan dan keselamatan siswa. Nadiem juga berharap setiap siswa yang mengalami luka-luka ataupun trauma dapat segera mengalami pemulihan. Sedangkan Kementerian Sosial siap memberi layanan trauma healing berupa pendampingan, sebagai upaya memulihkan kondisi mental para korban musibah SMPN 1 Turi.

Delapan siswa meninggal dunia.

Satu tersangka ini berinisial IYA yang merupakan pembina sekaligus guru dari SMPN 1 Turi. Pernyataan ini diungkapkan oleh Kabid Humas Polda DIY, Kombes Yulianto. Penetapan tersangka ini setelah pihak kepolisian melakukan gelar perkara dan memeriksa 13 orang. Dimana terdapat tiga kelompok dalam pemeriksaan tersebut. ¬†Yakni tujuh pembina pramuka, tiga orang dari Kwarcab Pramuka Kabupaten Sleman, dan sisanya merupakan warga yang berada di sekitar tempat kejadian saat tragedi terjadi. Kabid Humas Polda DIY, Kombes Yulianto “Tadi siang Direktur Kriminal Umum Polda DIY sudah memimpin gelar perkara di Polres Sleman setelah kami melakukan pemeriksaan terhadap 13 orang,” jelasnya. “Dari pemeriksaan ini saksi-saksi ini, dari hasil gelar perkara menyimpulkan untuk menaikan status penyelidikan menjadi penyidikan,” ujarnya. “Maka kami juga sudah menentukan satu orang dengan inisial IYA sebagai tersangka,” tegasnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares
error: Content is protected !!
%d bloggers like this: