Raup Keuntungan, Inilah Ancaman Penjara Penimbun Masker

Raup Keuntungan, Inilah Ancaman Penjara Penimbun Masker

Raup Keuntungan, Inilah Ancaman Penjara Penimbun Masker – Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus mengatakan mahasiswi tersangka penimbun masker berinisial THF (19) mengaku nekat berbuat curang karena untuk membantu biaya kuliah. “Tersangka mengaku berdagang untuk membayar uang kuliahnya,” kata Yusri di Jakarta, Rabu (4/3/2020). THF juga mengaku berjualan baju wanita dan produk kecantikan, sebelum menyadari banyaknya permintaan masker untuk mengantisipasi virus Corona. “Tersangka ini memang sudah lama berdagang lewat online. Namun, baru-baru ini saja dia memutuskan berdagang masker,” kata Yusri seperti dikutip Antara. TFH sendiri ditangkap Unit III Reserse Kriminal Polsek Tanjung Duren, Jakarta Barat, saat tengah berada di dalam lift. TFH tertangkap basah tengah memindahkan tiga dus masker untuk ditimbun di unit apartemennya. Setelahnya, polisi menggeledah 1 unit Apartemen Mediterania milik TFH. Di kamarnya, polisi menemukan ratusan dus masker lain yang ditimbun oleh TFH.

Baca juga : Belajar Digital Marketing Dan Bisnis Online Sampai Menghasilkan

Tanpa Ijin Resmi

Sedikitnya, ada 120 kotak masker wajah merek Sensi, 152 kotak masker wajah merek MITRA, 71 kotak masker wajah merek PRASTI dan 15 kotak masker wajah merek Facemas. “Sampai saat ini polisi masih mencari tahu izin resmi dari masker-masker tersebut,” kata Yusri. Dibantu Teman-Teman Yusri mengatakan TFH berani menimbun masker dengan modal usahanya sendiri, di tengah kelangkaan masker akibat permintaan tinggi. Selain itu, teman-teman tersangka juga ikut membantu menjual masker yang saat itu langka keberadaannya.  Satu dus masker dijualnya sekitar Rp 300.000-Rp 350.000 per kardus. TFH dikenai Pasal 107 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan, karena menimbun masker di tengah permintaan yang tinggi karena isu virus Corona.

Pemburuan Penimbun Masker

Aparat kepolisian masih memburu penimbun-penimbun masker lain di kawasan Jakarta, sesuai intruksi Presiden Joko Widodo yang meminta aparat kepolisian bergerak menangani penimbunan bahan pokok dan masker yang membuat kepanikan di tengah masyarakat. Polrestabes Makassar menetapkan dua oknum mahasiswa yang menimbun masker sebagai tersangka. Oknum mahasiswa yang berkuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Makassar itu adalah Ja (22) dan Jo (21). Salah seorang tersangka, Ja (22) mengaku, dirinya mendatangi banyak apotek di wilayahnya untuk membeli masker. “Saya kumpulkan dulu di sejumlah apotek,” katanya. Setelah berburu selama 2 hari, Ja dan Jo berhasil mendapatkan 200 boks masker. Sedianya, kata dia, masker-masker tersebut akan dikirim ke Selandia Baru. Mereka akan mendapatkan upah besar jika masker tersebut berhasil dikirimkan. “Kalau sudah sampai (ke Selandia Baru), baru saya ditransferkan sekitar kisaran Rp 50 juta hingga Rp 60 juta,” kata Ja. Semakin banyak mereka mengumpulkan maka jumlah upahnya semakin besar.

Sudah Biasa

Tak hanya sekali Rupanya, bukan kali pertama mereka menjual masker. Dua mahasiswa itu juga pernah menjual masker ke wilayah lainnya. “Katanya sudah beberapa kali menjual ada di Bali dan Balikpapan,” tutur Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Yudhiawan Wibisono. Kedua oknum mahasiswa itu dikenakan Pasal 107 UU Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan. Mereka dinilai menyembunyikan barang penting berupa masker demi kepentingan pribadi hingga mengakibatkan kelangkaan. Kasus tersebut terkuak saat mahasiswa akan mengirim masker di salah satu konter ekspedisi pengiriman di sebuah hotel di Makassar. Namun tumpukann kardus berisi masker itu rupanya mengundang kecurigaan. Salah seorang pejabat Wali Kota Makassar yang kebetulan berada di tempat tersebut mendapati kardus-kardus berisi masker. “Beliau curiga kenapa ada kardus ditaruh di luar dalam jumlah besar. Setelah itu ditanya apa isinya, ternyata masker. Setelah itu beliau menginformasikan kepada saya, saya langsung ke TKP di hotel horizon ternyata masker itu hendak dikirim ke New Zealand,” jelasnya.

Harga Yang Tinggi

Jangan heran jika banyak yang menimbun dan menjual kembali masker dengan harga yang sangat tinggi, lha setelah dihitung-hitung, keuntungannya sangat besar. Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam isu virus corona ini adalah soal masker. Begini, walau informasi dari berbagai pihak resmi terkait sudah dengan jelas mengatakan bahwa orang yang sehat tak perlu menggunakan masker, namun tetap saja masker menjadi instrumen kesehatan yang vital. Akibatnya, hampir dalam beberapa waktu terakhir, stok masker di banyak apotek dan swalayan ludes karena banyak dibeli masyarakat. Sulitnya mendapatkan masker ini pun pada akhirnya memancing kepanikan yang baru. Kepanikan ini lantas dimanfaatkan oleh segelintir oknum. Banyak yang memborong masker untuk kemudian menimbunnya, lantas menjualnya dengan harga yang sangat tinggi. Maklum saja, stok yang terbatas bakal membuat orang tetap mau membelinya dengan harga yang jauh lebih tinggi dari harga pasaran.

Ancaman Penjara

Saking banyaknya orang yang memborong dan menimbun masker, pihak kepolisian sampai harus mengambil tindakan tegas. Polisi melalui pernyataan resmi bakal memidanakan siapa saja yang secara sengaja menimbun masker. Walau sudah ada ancaman dari pihak kepolisian, namun masih saja banyak orang yang nekat menimbun masker dan menjualnya dengan harga yang tinggi. Maklum, aji mumpung. Semua orang butuh. Nah, ngomong-ngomong soal penimbun masker, sebenarnya berapa sih potensi penghasilan yang bisa didapatkan oleh para pencari untung ini kok sampai-sampai di bawah ancaman hukum masih tetap berani menimbun dan bahkan tega mencari untung di tengah kepanikan masyarakat.

Mari kita hitung dengan cara paling kasar

Harga masker sebelum merebak isu corona per boks (isi 50) berada di kisaran angka 30-35 ribu. Kalau dijual eceran satuan, umumnya seribu rupiah per masker. Menurut salah satu karyawan apotek 24 jam di Jogja, harga per boks masker bisa naik sampai dua kali lipat. Antara 60-70 ribu. Kita sebut saja kenaikan harga ini sebagai kenaikan harga periode awal. Nah, kelangkaan masker ini semakin hari semakin parah. Dulu pada awal tahun, walau sulit, tapi masyarakat masih tetap bisa mendapatkannya, sebab masih banyak apotek yang nyetok. Namun, dalam sebulan terakhir, ketersediaan stok masker semakin mengerikan seiring dengan makin naiknya isu corona, terutama setelah diumumkan ada dua pasien positif corona. Beberapa produk masker merek Unimed, Sensi, dan Neo per box isi 50 mulai banyak dijual antara 250-350 ribu. Inilah kenaikan harga periode puncak.

Lantas, berapa keuntungan penjual yang menimbun masker?

Dengan asumsi penjual mendapatkan stok saat periode kenaikan awal yakni 60-70 ribu per boks dan kemudian menjualnya dengan harga 250-350 ribu, maka keuntungan per boks-nya adalah 180-290 ribu. Kalau kita ambil nilai tengah keuntungan, maka didapat angka 240 ribu. Bayangkan, jika penjual bisa menjual 10 boks per hari, maka keuntungan per harinya bisa mencapai 2,4 juta per hari. Jika isu corona ini akan terus naik, atau yang paling parah, jumlah pasien positif corona bertambah, maka permintaan masker akan semakin tinggi. Kalau penjual bisa konsisten menjual dalam sebulan saja, dengan penjualan per hari minimal 10 boks, maka penghasilan per bulannya bisa mencapai minimal 72 juta rupiah. Sedaaaaaaaaaap. Nggak heran kan kalau banyak yang tetap nekat dan tertarik menimbun dan menjualnya kembali dengan harga yang tinggi.

Tapi ingat, semakin banyak keuntungan, tentu semakin besar pula dosa yang didapat.

Semenggiurkannya apa pun uang 72 juta, ia tetap tak ada apa-apanya dibandingkan dengan penderitaan “Penimbun masker meninggal dalam keadaan perut penuh dengan masker bekas pasien corona dari Wuhan!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares
error: Content is protected !!
%d bloggers like this: