Kisah Perjuangan Rangga Umara Si Raja Pecel Lele.

Rangga Umara Raja Pecel Lele.

Kisah Perjuangan Rangga Umara Si Raja Pecel Lele. – Sudah pernah dengar namanya? atau pernah dengar nama pecel lele-lela? atau sudah pernah makan disana? Rangga Umura adalah seorang pengusaha dan ia adalah pemilik bisnis Pecel Lele Lela. Awalnya Rangga Umara adalah seorang karyawan disalah satu perusahaan. Suatu ketika ternyata di perusahaan tempat ia berkeja ternyata ada sedikit masalah, sehingga mengharuskan adanya pemberhentian beberapa karyawan di perusahaan tersebut. Dan siapa sangka ternyata Rangga adalah salah satu orang yang diberhentikan dari perusahaan tersebut. Disaat teman yang lain yang PHK bergitu pusingnya karena harus mencari pekerjaan lagi, tapi itu tidak bagi Rangga. Ternyata Rangga memilih untuk membuka sebuah usaha untuk mendapatkan pengahasilan, ketimbang harus melamar pekerjaan lagi.

Baca juga : Belajar Digital Marketing Dan Bisnis Online Sampai Menghasilkan

Pecel lele modern

Disaat dia mencari ide untuk membuka bisnis apa, dia melihat begitu banyak penjualan pecel lele, mulai dari ujung sabang sampai ujung meroke. Hanya saja Rangga melihat bahwa semua penjual pecel lele itu rata-rata semuanya memiliki kesamaan, yaitu hanya sebuah layar besar yang bertuliskan pecel lele dengan gambar lele, ayam, dan kawan-kawannya. Nah mulai dari situlah muncul ide untuk berbisnis rumah makan pecel lele dengan konsep yang berbeda dari yang sudah ada dan lebih modern. Berangkat dari modal uang 3 Juta rupiah Rangga memulai bisnis rumah makan lele-lelanya itu, modalnya itu berasal dari menjual jam tangan, minyak wangi, dll, dan terkumpulah dana sebesar 3 juta rupiah.

Baca Juga : Kisah Pemilik Makaroni Ngehe – Dari Office Boy Jadi Pengusaha Sukses

Kendala Modal

Namun sayang, ide tersebut sempat hampir terbentur karena masalah modal Rangga yang cuma Rp 3 juta tersebut. Gak putus akal, Rangga mengajukan kerja sama dengan warung yang hampir tutup di daerah Kalimalang, Jakarta Timur. Dia kemudian mengelola warung tersebut dan memberikan uang sewa setiap bulan. Bukan langsung laris gitu saja. Awal berdiri usaha tersebut, orang-orang malah lebih sering beli pecel ayam daripada pecel lele Rangga. Timbullah ide buat menampilkan lele yang biasanya terlihat lebih “seram” dengan sajian yang menarik. Beragam lele dikreasikan oleh Rangga, mulai dari lele utuh sampai lele fillet agar kesan “seram” tersebut hilang. Intinya, Rangga membuat menu dengan bahan baku lele tersebut jadi variatif dan modern

Strategi Promosi yang Unik

Kehadiran Pecel Lele Lela gak serta merta langsung diketahui orang dong. Tentu Rangga butuh strategi khusus yang bikin orang kenal sama brand kuliner satu ini. Strategi promosi yang dilakukan oleh Rangga cukup unik. Jika biasanya beragam brand menggunakan artis terkenal buat memperkenalkan brand-nya maka Rangga menjadikan pelanggannya sebagai “artis”. Pelanggan yang datang difoto bersama-sama dan hasilnya dipajang di dinding. Bisa ditiru nih metode promosi ini. Tidak cuma Pecel Lele Lela, ada brand Mujigae yang juga gunakan cara ini. Jadi, foto pelanggan dipajang di restoran mereka. Seneng dong diapresiasi gitu. Hasilnya? Sekarang Pecel Lele Lela berhasil mengumpulkan omzet sampai miliaran rupiah per bulan. Rata-rata cabang outlet tersebut butuh sekitar 40 sampai 60 kilogram lele per harinya. Dari warung yang hampir tutup, sekarang Rangga udah bisa mempekerjakan ratusan karyawan. Selain itu, dia juga sedang berencana ekspansi ke berbagai daerah.

Kisah Pemilik Makaroni Ngehe – Dari Office Boy Jadi Pengusaha Sukses

Ali Muharam

Kisah Pemilik Makaroni Ngehe – Dari Office Boy Jadi Pengusaha Sukses – Siapa nih yang suka makan Makaroni Ngehe? cemilan yang satu ini sekarang masih booming banget. Tapi kalian tau enggak Makaroni Ngehe ini dibangun oleh siapa? Nah, perkenalin nih Ali Muharam, pemilik Makaroni Ngehe. Di balik kesuksesannya sekarang ini, dulu masa muda Ali bisa dibilang penuh kepaitan kalian. Banyak banget cobaan yang ia alami. Bahkan dapat dibilang dia terkadang susah untuk mencari makan. Dulu, sehabis lulus SMA, ia sempat mengadu nasib ke Bogor sebagai sales. Dari profesi sales, Ali pindah pekerjaan menjadi penjaga kantin di Jakarta. Lalu, kehidupabn Ali mulai sedikit membaik saat dia dapat pekerjaan sebagai penulis skenario di salah satu sinetron televisi. Nah, dari sana kehidupannya berangsur baik dari yang awalnya pahit. Tapi, kalian harus tau nih. Kerennya, kehidupan pahit itu lah yang dijadikan Ali sebagai inspirasi membuat brand bisnis bernama Makaroni Ngehe.

BACA juga : Kisah Sukses Pendiri Youtube Yang Dulunya Diramal Tidak Akan Kaya

Makaroni Ngehe

Karena itu, dia memutuskan berhenti dari pekerjaannya dan membuka usaha Makaroni Ngehe. Pada 11 Maret 2013 Ali mulai membuka bisnis Makaroni Ngehe. Tapi, awalnya banyak yang meragukan bisnisnya itu akan berkembang. Ditambah, pada saat itu banyak banget makaroni yang dijual di warung-warung. Tapi, ali tidak patah semangat. Ali terus bekerja keras, bahkan sampai dia sering banget tidur di dekat penggorengan. Akhirnya, bisnisnya itu perlahan naik melebihi ekspektasinya. Awalnya dia hanya punya satu outlet di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat pada tahun 2013. Dan sekarang, Makaroni Ngehe sudah ada di mana-mana, di berbagai kota mulai dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Bandung, hingga Yogyakarta. Sebelum sukses seperti sekarang, dia pernah melakoni berbagai macam pekerjaan seperti pedagang sandal, office boy, penjaga kantin, menjaga toko baju, penulis skenario, chef restoran Jepang, penerjemah orang Sri Lanka, dan bekerja di event organizer.

Baca juga : Belajar Digital Marketing Dan Bisnis Online Sampai Menghasilkan

Memulai Usaha Baru

Dari rentetan perjalanan karir Ali yang berliku, akhirnya pada 2012 dirinya memberanikan diri untuk memulai usaha baru. Dia meminjam modal kepada temannya sebesar Rp 20 juta untuk membuka usaha makaroni. Inspirasi usaha itu datang dari sang ibu yang sering membuat cemilan makaroni ketika lebaran. Dengan modal tersebut Ali menyewa dan menghias toko kecil berukuran 2×3,5 meter yang akan dijadikan outlet pertama Makaroni  Ngehe di Kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. “Disana saya jalankan sendiri, belanja sendiri, melayani sendiri, sampai mengkonsep toko sendiri,” ujar Ali. Menurutnya, momen tersebut tak pernah dirinya lupakan karena merupakan bagian cerita dalam mengembangkan bisnis kulinernya. Karena menjalankan aktivitas bisnis sendirian, Ali mulai mengalami hambatan, salah satunya disaat bahan baku habis dan harus melakukan pemesanan ke Tasikmalaya untuk makaroni.

Sejarah Nama Brand

Ali bercerita, nama Makaroni Ngehe dipilih karena berdasarkan perjalanan hidup dirinya yang dia jalani sebelum membangun bisnis kuliner tersebut sangat memprihatinkan dalam artian “ngehe” menurut Ali. Mulai dari menggeluti pekerjaan Office Boy, pedagang makanan, pejaga toko baju, hingga mengalami kelaparan, tidak memiliki tempat tinggal adalah beberapa hal yang membuat dirinya menjadi seperti saat ini. “Kenapa Makaroni Ngehe namanya? karena fase-fase hidup saya yang ngehe banget, saya harus kelaparan, minum air keran, dimaki-maki atasan, dibodoh-bodohin depan orang banyak,” kata Ali. Namun demikian, lanjut Ali, dari sisi branding atau merek, menurutnya kata ‘ngehe’ memiliki arti yang kuat, simple atau mudah diingat.

Jatuh Bangun Usaha Burger Klenger – Burger Indonesia

Pondok Sayur Asem

Jatuh Bangun Usaha Burger Klenger – Burger Indonesia – Dia ingin berbisnis kuliner kembali. Ide tentang makanan anak muda membayangi. Dalam benaknya bagaimana membuat makanan khas kekinian. Bagaimana meracik makanan burger menjadi sedap. Makanan berat yang di Indonesia dijadikan cemilan ini butuh sentuhan. Dia ingin cita rasa khas Indonesia disini. Aneka buku kemudian dia pelajari. Tujuannya menciptakan satu cita rasa cocok dilidah kita. Pondok Sayur Asem berdiri tahun 2002. Dimana dia masih bekerja sebagai account manager BBDO Komunikas. Bisnisnya terletak di Pekayon, Bekasi, Jawa Barat. Memang bisnis tidak total karena mereka tidak turun tangan sendiri. Alhasil sempat ada percecokan dengan juru masak usaha mereka. Karena memang juru masak dianggap tidak sesuai, baik cara memasak sampai menu makan. “Ilmu kasak didapat dari ibu saya,” jelasnya. Dua tahun kemudian sang suami bekerja ke Jepang. Mungkin karena jabatan yang sudah mapan. Ia membujuk Velly untuk fokus. Dia menyarankan mengejar mimpi wirausaha. Velly setuju.

Baca juga : Belajar Digital Marketing Dan Bisnis Online Sampai Menghasilkan

Bisnis marketing mobil.

Mungkin istilah sekarang marketing online. Sayangnya, waktu itu, orang belum banyak berminat. Lulusan D3 Sastra Belanda UI tersebut, tidak putus asa dan mencoba bisnis kerajinan tangan. Sayang, bisnis kerajinan tangan juga gagal, keberuntungan seolah menuntunya kembali ke bisnis kuliner. Uang dikantong tinggal 30 juta. Akhirnya pasangan ini sepakat melanjutkan bisnis PSA meski seadanya. Terbersit pikiran membuka usaha burger. Karena tidak cukup uang maka pinjam uang. Velly pinjam uang atasannya Pak Aris Budiharjo. Karena tidak punya keahlian membuat burger. Aneka buku masakan dia borong. Dia membuat sendiri resep daging khas Indonesia. Marketing pertama dijualnya ke kerabat dan teman. Responnya bagus. Bahkan teman yang semula tidak suka burger, kini menjadi pelanggan Velly. Terdiri roti lembut dan daging spesial berbumbuh khas. Burger buatannya memang bikin klepek- klepek. “Kata suami Klenger berarti keenakan atau klepek- klepek,” inilah awal nama bisnis tersebut. Nama tersebut dianggap mewakili rasa, dan juga harapan agar mudah diingat.

Pemasaran

Sesudah mendapatkan nama tinggal dipasarkan. Sebagai pakar advertising, mudah baginya langsung mendesain logo dan memilih warna logo. Logo burger bertuliskan nama Klenger Burger diatas ikon burger, tidak disamping seperti nama burger lain. Menjaga kualitas Klenger Burger menjalin kerjasama dengan para penyuplai bahan baku . Untuk rotinya, Klenger Burger disuplai oleh King Burger, yakni brand burger terkenal dari luar sehingga kualitasnya pun tidak kalah dengan burger dari luar negeri. Sedangkan dagingnya, menggunakan daging kualitas terbaik di negeri ini. Hebatnya, kapasitas produksi Klenger Burger justru lebih tinggi dibanding King Burger. Hingga saat ini, Klenger Burger mampu menjual hingga sekitar 150 ribu pieces burger per bulan. Besar kecilnya angka penjualan di setiap outlet memang tidaklah sama, tergantung tempatnya juga. Seperti di Salemba dan Bogor yang outletnya buka hingga 24 jam, tentu saja angka penjuaulannya lebih tinggi dibanding outlet yang lain.

BACA juga : Kisah Sukses Pendiri Youtube Yang Dulunya Diramal Tidak Akan Kaya

Bekerjasama Dengan Perusahaan Lain

Untuk mengembangkan usaha burgernya, Velly dan Gatut memilih untuk bermitra dengan pengusaha lain. Dengan mengadopsi sistem dari luar, akhirnya dipilihlah cara franchise. Selain untuk lebih mengembangkan Klenger Burger, hal itu dipilih sebagai alternatif mengatasi keterbatasan modal. Persyaratan untuk menjadi franchise Klenger Burger sendiri juga tidak terlalu sulit. Dengan modal sekitar Rp 200 juta, calon franchise sudah akan mendapat paket franchise selama 5 tahun, lengkap dengan peralatannya dan training karyawan. Selain itu, calon franchise harus merasa yakin dalam menjalani bisnisnya, karena itu sangat berpengaruh terhadap perkembangan usahanya ke depan. Hingga saat ini telah banyak permintaan dari calon frachise yang datang dari luar Jawa. Sehingga para penggemar burger yang berada di luar Jawa pun masih bisa menikmati kelezatan Klenger Burger, yang merupakan burgernya Indonesia.

Kisah Dan Fakta Unik Bisnis Katering Online BerryKitchen

Cynthia Tenggara

Kisah Dan Fakta Unik Bisnis Katering Online BerryKitchen – Seorang wanita muda yang sukses mendirikan bisnis katering online dengan nama BerryKitchen. Fakta uniknya yang harus kalian ketahui ternyata dia bukanlah orang yang pintar memasak dan tidak begitu menggemari dunia memasak. BerryKitchen yang diusung Cynthia ternyata cukup berbeda dan unik dibandingkan dengan konsep katering yang lainnya. Kalian sebagai pelanggan tidak perlu repot-repot memesan makanan lewat telepon yang bisa ngabisin pulsa wkwk. karena semua pemesanan bisa dilakukan via online. Kalian juga bisa bebas memilih menu yang disukai dan yang lebih penting lagi tidak ada minimum order yang harus kalian penuhi serta bebas biaya pengantaran. Untuk modal,  Cynthia menguras tabungannya senilai Rp70 juta. Rp50 juta dimasukkannya ke Berry Kitchen, Rp 20 juta disisihkannya untuk hidup sehari-hari, termasuk biaya kost hingga enam bulan. Targetnya, di bulan itu perusahaannya telah mencapai BEP (balik modal), syukur-syukur sudah menghasilkan keuntungan.

Kesulitan pertama yang di hadapi itu mencari chef.

Untuk meyakinkan seorang chef agar keluar dari pekerjaan dia di hotel atau restoran kemudian ikut berbisnis di Berry Kitchen yang belum ada bentukannya. Dari 10 chef, 9 mengatakan bisnis yang saya kemukakan tidak mungkin dijalankan. Tapi akhirnya ada juga chef yang mau mencoba, hingga sampai saat masih masih Bersama dengan chef tersebut. Setiap harinya, Berry Kitchen menyediakan 15 hingga 20 menu baru yang dapat dikombinasikan dan semuanya dapat dipesan secara online melalui situs berrykitchen. Kata  Cynthia Tenggara, makanan yang ada di Berry Kitchen jauh lebih terjangkau. Per-box makanannya ditafsir seharga Rp 25 ribu hingga Rp 40 ribu. Berry Kichen mengkalim telah melayani pemesanan hingga 245 ribu kotak makanan untuk 7 ribu pelanggan sejak diluncurkan pada 2012 dan dalam waktu sehari Cynthia bisa meraup untung sebesar 60 juta perhari.

Baca juga : Belajar Digital Marketing Dan Bisnis Online Sampai Menghasilkan

Masalah besar yang menimpa?

Kalau masalah besar banget sih, tidak. Tapi, di setiap langkah, ada saja cobaannya. Ada saja masalah. Meskipun kecil-kecil, tapi setiap hari itu pasti ada. Misalnya, banjir terus kami rugi. Banjir kelar, terus masalah perijinan muncul. Pokoknya masalah itu selalu ada, seperti kerikil. Kedepannya sih, mau meningkatkan kualitas kami. Kami ingin lebih ke premium sedikit, harganya dinaikin sedikit, tapi makanannya jauh lebih baik. Terus makanannya jauh lebih enak, decent, orang makan suka, dan juga sehat. Setelah serve 2500 orang, kami ingin lebih meningkatkan ke kualitas.

BACA juga : Kisah Sukses Pendiri Youtube Yang Dulunya Diramal Tidak Akan Kaya

Dibalik kesuksesan Berry Kitchen

Berry Kitchen merupakan buah pemikiran dari seorang mantan anggota tim Groupon Indonesia, Cynthia Tenggara. Bisnis catering online Cynthia kemudian mendapatkan pendanaan awal dari jaringan investor wanita milik GEPI (Global Entrepreneur Program Indonesia) yang bernama  ANGIN (Angel Investor Network Indonesia). Tak hanya itu saja, Cynthia juga dibimbing oleh co-founder Groupon Indonesia, Ferry Tenka dan Lenka Lamuda untuk memulai Berry Kitchen secara profesional. ANGIN meyakini bahwa management Berry Kitchen yang efektif dan unggul ditambah konsep fresh yang ditawarkan akan membuat Berry Kitchen lebih maju dan mendapat respon positif dari target pasar yang menjadi calon pelanggan. Hingga saat ini Berry Kitchen senantiasa berkembang dan berinovasi dan telah memiliki beberapa klien tetap seperti MalesBanget.com, Groupon.com, XMGravity.com, Bilna.com, Traveloka.com, dan BerryBenka.com.

Kisah Jatuh Bangun Marta Linda Basuki Pemilik Coklat Klasik

Cokelat klasik

Kisah Jatuh Bangun Marta Linda Basuki Pemilik Coklat Klasik – Usianya muda dan masih berstatus mahasiswa. Tetapi, Marta Linda Basuki sudah memiliki 46 outlet minuman cokelat cepat saji. Tak main-main, outletnya kini tersebar dari Jawa, Kalimantan, hingga Sumatera.  Dia menyebutkan, ide awal bisnisnya berawal dari hobi kuliner yang dia lakukan. Saking banyaknya lokasi kuliner di Malang, gadis kelahiran Jayapura itu menyatakan, Malang sebagai salah satu surganya kuliner di Indonesia. ”Kalau mau kuliner sambal tinggal ke sini, pingin nongkrong enak pilihannya ada di situ. Dari situ saya berpikir, kalau saya punya kafe, saya bisa makan semau saya suka kan,” ucap Lala. Lala menjelaskan, 11 November 2011 lalu, dia memutuskan membuka kafe di Kampung Inggris yang ada di Pare, Kediri. Kafe tersebut dia namai ’Kafe Klasik’. Dia menceritakan, modal membuka kafe itu sebanyak Rp 95 juta. Modal itu dia dapatkan dari menjual motor, laptop, dan pinjam sana-sini ke saudaranya.

Bisnis pertama yang dia geluti ternyata gagal total.

Dia mengakui jika terdapat kesalahan dalam project plan yang dilakukannya. ”Jadi siklusnya begini, Kampung Inggris di Kediri justru ramai ketika kampus di Malang libur. Sementara saat kampus Malang masuk, di sana sepi sekali. Nah, saya buka ketika bulan efektif kampus di Malang. Jadinya sepi banget,” kenang perempuan kelahiran 13 Maret 1991 tersebut. Dari pengalaman itu, ia semakin sadar, bahwa setiap bisnis harus bertanggungjawab. Dia perlu merancang semua dengan teliti. Dia memutar otak. Bagaimana sisa uang di kantong Rp7 juta bisa tetap bisa menjalankan usaha. Ketika itu, ramai bisnis minuman Cappucino Cincau di Malang. Dia terinspirasi. Ia melakukan riset sederhana karena tak ingin sama dengan bisnis kuliner lain.

BACA juga : Kisah Sukses Pendiri Youtube Yang Dulunya Diramal Tidak Akan Kaya

Munculah Ide Tak Biasa

Dari risetnya dia menemukan data bahwa minuman yang paling laku di kafe adalah cokelat. Dari situ, dia terpikir untuk mengembangkan minuman cokelat dengan beragam rasa dan topping agar menarik: kacang, susu, hingga beragam menu lain. Jadilah dia berbisnis minuman cokelat gerobak. Kendala muncul, susah mencari pegawai yang mau mendorong gerobak. Akhirnya, ia bawa gerobak itu ke kampus. Jika ada kuliah, gerobak jualan tutup. Jika sedang tak kuliah ia berjualan. Pernah ketika awal jualan, dari pagi sampai sore, tak ada pembeli sama sekali. Karena sepi, ia putar otak dengan cara membuat tester 20 item produk lalu dia sedekahkan ke panti dengan diantar sendiri. Tak apa produk tak laku yang penting ia bisa berbagi terlebih dahulu. Adapun gerobak jualan, ia titip ke teman kuliah. Rupanya, pas di perjalanan pulang dari panti, temen yang bantu jaga memberi tahu sudah ada 10 konsumen yang antre.

Belajar dari kegagalan

Kini, saat usaha semakin berkembang, ia rutin melakukan inovasi. Kesalahan kebangkrutan di masa lalu, kata Lala, semata karena tak ada mentor. Kini ia lebih cermat dalam melihat tren pasar kuliner. Kemasan juga semakin bagus karena semakin sadar arti penting branding sebuah produk. Desain cup dari sejak memulai bisnis hingga sekarang sudah enam kali berubah. Kata Lala, inovasi harus menjadi kunci, agar pelanggan konsumen melihat bahwa bisnis yang digeluti berjalan bagus.“Bisnis itu perlu banyak inovasi agar pelanggan-pelanggan itu menilai, oh bisnis ini running bagus, jadi berkembang. Mulai produk, sampai kemasan, branding, servis terus kami upgrade,” ucapnya.

Baca juga : Belajar Digital Marketing Dan Bisnis Online Sampai Menghasilkan

Bisnis adalah passion kita

Kata Lala, usaha atau bisnis, benar-benar harus sesuai dengan passion. Tidak hanya ikut-ikutan tren karena boleh jadi bukan passion sebenarnya. Banyak pengusaha muda yang akhirnya bangun bisnis gede, tidak bertahan, karena itu bukan passion mereka. Pada saat dapat benturan, ujian, menyerah lalu banyak mengeluh.“Pada saat gak percaya diri kita tidak bisa mengharapkan orang lain. Jadi satu hal yang harus kita lakukan adalah mempercayaai diri sendiri, dan kemampuan kita maka memungkinkan orang percaya dengan kita. Kalau sekarang kita gak percaya dengan diri sendiri, dengan usaha kita bagimana meyakinkan orang lain, agar mau usaha dengan kita,”

Kisah Sarah Agnestika – Pengusaha Kuliner Muda Yang Sukses

Sarah Agnestika.

Kisah Sarah Agnestika – Pengusaha Kuliner Muda Yang Sukses – Bisnis kuliner yang lagi hits di Kota Medan miliknya berhasil meraup keuntungan yang cukup manis yakni Rp150 juta/bulan. Berkat Konsistensinya, Sarah sudah memiliki 3 gerai Crunchy Banana yang tersebar di Kota Medan. Berbisnis memang kesukaannya sudah sejak lama. Awalnya ia memulai usaha jualan pakaian yang dia pasok dari Bangkok, Thailand, namun, sulitnya prosedur yang harus dijalani belakangan hari, membuatnya memutuskan menghentikannya dan kemudian berfikir untuk membuka bisnis yang baru sesuai dengan kesukaannya. “Lalu saya mencari apa ya usaha yang cocok untuk dijual dan modalnya nggak gede?. Lalu saya memutuskan mencoba olahan pisang. Coba cari resep di YouTube, Google, itu mulai bulan Juni 2017, intinya bagaimana supaya produknya enak. Tapi pas dicoba malah nggak enak. Apa lagi memang Sarah nggak bisa masak,” katanya .

Baca juga : Belajar Digital Marketing Dan Bisnis Online Sampai Menghasilkan

Terus Mencoba

Tidak putus asa, Sarah terus melakukan percobaan, hingga anak ke dua dari tiga bersaudara ini menemukan cara agar pisang olahannya menjadi enak. Punya resep enak, iseng-iseng, dia mendesain logo memanfaatkan telepon pintar (smartphone) miliknya dengan mengunduh sejumlah aplikasi. Hasilnya didapat logo. Dia pun lalu memesan kotak kemasan dengan mencantumkan logo hasil kreasinya. Praktis, di awal, dia hanya mengeluarkan modal sebesar Rp1,5 juta. “Awalnya cuma buat satu kotak isinya 500 lembar. Lalu saya inisiatif jual makanan itu di kampus pakai mobil waktu semester lima, lalu saya buat akun Instagram (Crunchyroll Banana Medan). Pertama pelanggannya dari teman dulu, lalu mereka coba posting di Instagram mereka. Pelanggan bertambah, saya lalu buka orderan, ajak teman-teman kampus karena semakin kewalahan, pesanan mulai banyak, 50 kotak satu hari,” ucap mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) tersebut.

BACA juga : Kisah Sukses Pendiri Youtube Yang Dulunya Diramal Tidak Akan Kaya

Membuka Usaha Di Rumah

Belum puas, putri pasangan Benny Sihotang dan Dame Duma Sari Hutagalung tersebut memutuskan untuk menghentikan usaha di kampus dan membuka usaha di rumah ibunya. Namun sebelumnya, dia mendaftarkan produk Crunchy Banana ke perusahaan jasa antar makanan milik ojek online. Langkahnya berhasil, konsumen semakin bertambah. Sayangnya, prosedur keluar-masuk komplek yang agak ketat membuatnya harus memikirkan pindah ke tempat lain sembari mengurusi label halal. “Saya sempat nggak mau pindah, takut langganan malah akan menurun. Apalagi kan orang gak boleh sembarangan masuk ke dalam komplek. Tapi akhirnya saya memutuskan pindah ke ruko yang kebetulan punya mama. Pelanggan malah semakin ramai. Saya sampai disarankan buka di tempat lain,” ucap Sarah. Dengan keuntungan yang sarah kumpulkan, Sarah memutuskan buka cabang di kawasan Medan Marelan, Februari 2018..

Semakin Berkembang

Pemesanan kotak kemasan pun semakin banyak. Hampir setiap pekan, dia memesan 10 ribu kotak. Untuk pisang, setiap 1000 sisir pisang kepok yang dipesan, biasanya ludes dalam waktu lima hari. Namun lantaran sudah bekerja sama dengan agen, Sarah mengaku tidak kekurangan bahan baku. Jika untuk tiga gerai dia mempekerjakan 15 karyawan, untuk pematangan pisang, Sarah juga mempekerjakan dua orang yang bekerja di tempat penyimpanan di rumah ibunya. Kini, Sarah mengaku dalam sebulan, omset dari tiga gerainya bisa mencapai Rp300 juta sampai Rp400 juta. Soal keuntungan, gadis muda itu bisa mengantongi keuntungan minimal Rp150 juta. Bahkan, Crunchy Banana miliknya menjadi top 25 makanan paling laris di Kota Medan jika dilihat dari banyaknya pesanan. Lantas apa yang membuat makanannya enak?. Menurut Sarah pelanggan suka karena tekstur pisangnya yang tidak lembek, dengan varian dan aneka topping yang ada.

Kisah Perjuangan Dibalik Suksesnya J.Co Donuts & Coffee

Membuka Salon Di Jakarta

Kisah Perjuangan Dibalik Suksesnya J.Co Donuts & Coffee – Keahlian Johnny Andrean sebagai hair stylish didapat dari sang ibu. Orangtua membesarkannya dari berjualan hasil alam dan membuka salon. Johnny belajar dan menekuni bidang tata rambut dan tata rias. Melihat peluang, Johnny membuka salon pertama di Jakarta Utara tahun 1978. Jangan dibayangkan salonnya besar seperti sekarang. Gerai salonnya kecil, dan layanan yang diberikan pun masih terbatas. saat itu, Johnny sendiri yang melakukan semuanya. Berkat pelayanan yang ramah, harga bersahabat, makin banyak pelanggan berdatangan. Banyak konsumen memuji hasil tatanan rambutnya. Bahkan Johnny punya julukan ‘Si Tukang Keramas.’ Setelah bisnis salonnya semakin berkembang, ia mulai merekrut karyawan dan membuka cabang.

Baca juga : Belajar Digital Marketing Dan Bisnis Online Sampai Menghasilkan

Belajar Ke Eropa

Usahanya berkembang pesat. Johnny kemudian merasa untuk menambah pengetahuan seputar mode dan tata rambut lebih luas. Ia memutuskan untuk pergi menimba ilmu mode dan tata rias, termasuk tata rambut ke beberapa sekolah di Eropa, antara lain, Trevor Sorbie Academy London, Vidal Sasson Academy London, Tony and Guy Academy London, serta Alexander de Paris. Punya bekal ilmu yang memadai, berdampak positif bagi bisnis Johnny. Johnny Andrean Salon makin berkibar dan mulai membuka banyak cabang, khususnya di Jakarta.

BACA juga : Kisah Sukses Pendiri Youtube Yang Dulunya Diramal Tidak Akan Kaya

Masa-masa Sulit

Namanya bisnis, ada pasang surutnya. Bisnis salon Johnny Andrean terkena imbas dari kerusuhan tahun 1998. Banyak cabang atau gerai salonnya menjadi ‘korban’ pengrusakkan oleh massa pada saat itu. Akibatnya, ia menanggung kerugian cukup besar. Bukan Johnny namanya kalau patah semangat. Ia percaya keadaan akan segera membaik, dan masih ada pelanggan setia yang ingin terus menikmati pelayanannya. Oleh karena itu, Johnny bangkit dan memulai kembali dari awal. Pasca ditimpa musibah, bisnis salonnya justru terus berkembang, hingga terus menebar jaringan atau cabang di seluruh Indonesia.

Bisnis Roti

Di tengah perkembangan bisnis salonnya, Johnny melihat peluang bisnis menjanjikan di bidang kuliner. Bisnis roti menjadi pilihan Ayah empat orang anak ini. Ia membeli hak waralaba jaringan toko roti populer asal Singapura, BreadTalk pada tahun 2003. Kemudian dijual di Indonesia di bawah BreadTalk Indonesia. Sebelum mendirikan gerai pertamanya, Suami dari Tina Andrean terbang ke kantor pusat BreadTalk di Singapura untuk belajar mengenai roti, mulai dari cara memasak, variasi topping untuk roti, dan masih banyak lainnya. Gerai perdana BreadTalk hadir di Mal Kelapa Gading, Jakarta Utara. Konsepnya adalah open kitchen, sehingga pengunjung dapat melihat langsung proses pembuatan roti-roti tersebut. Coba saja kalau lewat di depan gerai atau outlet, wangi aroma roti langsung menusuk hidung, membuat pengunjung tertarik mampir dan membeli. Strategi pemasaran yang tepat, membuat BreadTalk semakin dikenal masyarakat. Saat ini, sudah ada ratusan gerai di seluruh Indonesia dan mendulang banyak rupiah untuk Johnny.

J.Co Donuts & Coffee

Sukses dengan BreadTalk, johny merintis usaha donat merek sendiri yang diberi nama J.Co Donuts & Coffee pada tahun 2005. Berbeda dengan BreadTalk, konsep gerai J.Co menerapkan strategi displai. Menggunakan bahan baku berkualitas, harga terjangkau, membuat donat J.Co disukai masyarakat. Tentu saja dalam bisnis makanan dan minuman, kunci kesuksesan adalah terus berinovasi. Johnny memiliki tim untuk melakukan inovasi dan menciptakan berbagai varian baru. Selain di Tanah Air, J.Co sudah go internasional. Cabangnya ada di beberapa negara di Asia, seperti Malaysia, Filipina, Tiongkok, dan Singapura. Bahkan sempat terjadi kontroversi di mana gerai donat milik Johnny dijiplak oleh produsen asal Malaysia dan diberi nama Big Apple Donuts & Coffee.

Kisah Purdi E. Chandra Keluar Dari Universitas Demi Berbisnis

Purdi E. Chandra

Kisah Purdi E. Chandra Keluar Dari Universitas Demi Berbisnis – Kisah sukses pengusaha kecil pendiri lembaga pedidikan yang awalnya mempunyai satu atau dua murid saja. Kini sudah memiliki ratusan ribu murid yang hampir tersebar dari Sabang sampai Merauke. Bahkan di tangan beliau. Lembaga pendidikan ini berhasil meraih penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai Bimbingan Belajar Terbesar di Indonesia.

BACA juga : Kisah Sukses Pendiri Youtube Yang Dulunya Diramal Tidak Akan Kaya

Jatuh Bangun Usahanya

Pasti saudara tak habis pikir karena bisnis yang besar dimulai dari bisnis yang kecil. Yang hanya satu cabang, dan yang paling parah cuma dua orang murid saja. Tokoh yang satu ini patutlah diangkat kisah perjalanan usahanya sebagai inspirasi kita semua. Namun siapa sangka, keberhasilannya merintis usaha ini penuh dengan jatuh bangun. Ia sering dihadapkan dengan cobaan dan rintangan. Tetapi berbekal kerja keras dan semangat pantang menyerah, akhirnya ia mampu untuk memperluas kesempatan kerja bagi semua orang yang ingin berkarya bersama beliau. Buktinya beliau kini memiliki berbagai bisnis yang banyak dan tersebar di seluruh nusantara. Selanjutnya dengan harapan bisa membagi pengetahuan tentang kisah sukses pengusaha kecil hingga menjadi seorang milyader

Baca juga : Belajar Digital Marketing Dan Bisnis Online Sampai Menghasilkan

Meninggalkan Pendidikan Demi Bisnis

Bisnis “resminya” sendiri dimulai pada 10 Maret 1982, yakni ketika ia bersama teman-temannya mendirikan Lembaga Bimbingan Test Primagama (kemudian menjadi bimbingan belajar). Waktu mendirikan bisnisnya tersebut Purdi masih tercatat sebagai mahasiswa di 4 fakultas dari 2 Perguruan Tinggi Negeri di Yogyakarta. Namun karena merasa “tidak mendapat apa-apa” ia nekad meninggalkan dunia pendidikan untuk menggeluti dunia bisnis. Dengan “jatuh bangun” Purdi menjalankan Primagama. Dari semula hanya 1 outlet dengan hanya 2 murid, Primagama sedikit demi sedikit berkembang. Kini murid Primagama sudah menjadi lebih dari 100 ribu orang per-tahun, dengan ratusan outlet di ratusan kota di Indonesia. Karena perkembangan itu Primagama akhirnya dikukuhkan sebagai Bimbingan Belajar Terbesar di Indonesia oleh MURI (Museum Rekor Indonesia).

Awal Berbisnis

Pada awal-awal berdirinya Primagama, Purdi selalu ditemani sang istri untuk berkeliling kota di seluruh Indonesia membuka cabang-cabang Primagama. Dan atas bantuan istrinya pula usaha tersebut makin berkembang. Kini Primagama sudah menjadi Holding Company yang membawahi lebih dari 20 anak perusahaan yang bergerak di berbagai bidang seperti: Pendidikan Formal, Pendidikan Non-Formal, Telekomunikasi, Biro Perjalanan, Rumah Makan, Supermarket, Asuransi, Meubelair, Lapangan Golf dan lain sebagainya. Walaupun kesibukannya sebagai entrepreneur sangat tinggi, namun jiwa organisatoris Purdi tetap disalurkan di berbagai organisasi. Tercatat Purdi pernah menjabat sebagai Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) cabang Yogyakarta dan pengurus Kamar Dagang dan Industri Daerah (Kadinda) DIY.

Ilmu Street Smart

Untuk jadi seorang entrepreneur sejati, tidak perlu IP tinggi, ijazah, apalagi modal uang. “Saat yang tepat itu justru saat kita tidak punya apa-apa. Pakai ilmu street smart saja,” ungkap Purdi E Chandra, Dirut Yayasan Primagama. Menurutnya, kemampuan otak kanan yang kreatif dan inovatif saja sudah memadai. Banyak orang ragu berbisnis cuma gara-gara terlalu pintar. Sebaliknya, orang yang oleh guru-guru formal dianggap bodoh karena nilainya jelek, justru melejit jadi wirausahawan sukses. “Masalahnya jika orang terlalu tahu risikonya, terlalu banyak berhitung, dia malah tidak akan berani buka usaha,” tambah ‘konglomerat bimbingan tes’ itu. Purdi yang lahir di Lampung 9 September 1959 memang jadi model wirausaha jalanan, plus modal nekad. la tinggalkan kuliahnya di empat fakultas di UGM dan IKIP Yogyakarta. Lalu dengan modal Rp.300 ribu ia dirikan lembaga bimbingan tes Primagama 10 Maret 1982 di Yogyakarta.

Omset yang mencengangkan

Sebuah peluang bisnis potensial yang kala itu tidak banyak dilirik orang. la sukses membuat Primagama beromset hampir 70 milyar per tahun, dengan 200 outlet di lebih dari 106 kota. la dirikan IMKI, Restoran Sari Reja, Promarket, AMIKOM, Entrepreneur University, dan terakhir Sekolah Tinggi Psikologi di Yogyakarta. Grup Primagama pun merambah bidang radio,penerbitan, jasa wisata, ritel, dll. Semua diawalkan dari keberanian mengambil risiko. Kini Purdi lebih banyak lagi ‘berdakwah’ tentang entrepreneurship. Bagi Purdi, entrepreneur sukses pastilah bisa menciptakan banyak lapangan kerja. Namun, itu saja tidak cukup berarti bagi bangsa ini.

Kisah Mohammad Baedowy Menyulap Sampah Menjadi Rupiah

Mohammad Baedowy

Kisah Mohammad Baedowy Menyulap Sampah Menjadi Rupiah – Seorang pengusaha limbah plastik yang sukses meraih milyaran rupiah pertahun dari bisnis yang bagi kebanyakan orang dipandang sebelah mata. Diluar dari keberhasilan yang diukur dari besarnya pundi-pundi rupiah yang dihasilkan. Baedowy juga adalah contoh sosok pengusaha yang mendapatkan banyak penghargaan dari hasil kerjanya. Baedowy adalah penerima penghargaan pemuda pelopor tingkat nasional 2006. Tokoh pengusaha muda terbaik pilihan majalah Tempo. Soegeng Sarjadi Awards on Good Governance. Piagam penghargaan Kalpataru 2010, dan juara 1 wirausaha terbaik Indonesia versi Dji Sam Soe Awards. Kesuksesannya tersebut tidak diraih dengan mudah oleh Baedowy. Dirinya harus berjuang dalam mencapai kesuksesan tersebut, kisahnya dalam merintis bisnis adalah salah satu contoh kisah inspiratif pengusaha Indonesia yang sukses membangun bisnis dari nol. Sebelum memulai bisnis, Baedowy sebenarnya mempunyai pekerjaan yang mapan dan cukup mentereng. Dirinya adalah seorang auditor di Royal Bank of Scotland dan berkantor dikawasan elite Jakarta.

Baca Juga : Kisah Inspiratif Bos Keripik Singkong Maicih – Reza Nurhilman

Menjadi Wirausahawan

Walaupun mempunyai pekerjaan yang cukup mapan tersebut, Baedowy mempunyai tekad untuk berwirausaha yang lebih kuat sehingga dia hanya bertahan 3 tahun bekerja di Royal Bank of Scotland sebelum keluar. Setelah tidak lagi menjadi seorang pegawai, Baedowy mencoba berbisnis ternak jangkrik dengan merombak salah satu kamar dirumahnya. Namun sayang pada percobaan pertamanya tersebut ternak jangkriknya bukannya bertambah tetapi justru semakin susut dan menemui kegagalan. Dalam bisnis yang dijalankan Baedowy, dia enggak hanya mencacah sampah plastik saja, namun juga telah membuat mesin penggilingan plastik dan memproduksi lakop atau ujung kepala sapu ijuk. Sampah plastik sudah layaknya harta karun yang bisa disulap Baedowy menjadi ladang mata pencahariannya. Hingga sekarang, sudah ada puluhan mitra yang bergabung dengannya dan tersebar di beberapa daerah di Indonesia.

Baca juga : Belajar Digital Marketing Dan Bisnis Online Sampai Menghasilkan

Namun, usahanya tidak selalu berjalan mulus.

Selama 19 tahun bergelut di usaha daur ulang sampah, pria berambut gondrong ini sempat didera masalah bertubi-tubi. Mulai dari mesin penggiling plastik yang sering rusak hingga menghambat produksi. Memulung sampah-sampah plastik sendiri ke berbagai daerah. Serta minimnya informasi soal upaya bisnis daur ulang plastik ini. Dari sekian banyak masalah yang menimpanya. Baedowy pun punya nazar untuk membantu siapapun yang ingin terjun ke bisnis yang sama dengannya. Bahkan merangkulnya sebagai mitra. Terbukti, saat kami menyambangi pabriknya di Kota Bekasi. Baedowy sedang sibuk mengadakan workshop dan sesi tanya jawab dengan beberapa orang yang datang dari berbagai kota di Indonesia untuk berguru padanya. “Jadi, setiap weekend itu saya emang suka ngadain pertemuan, ngobrol-ngobrol sama teman-teman yang mau ngejalanin usaha yang sama kayak saya, kalau jadi mitra, ya, kami bantu untuk buat mesin daur ulang sampah, pasang mesin sampai training,” jelas bapak tiga anak ini.

Baedowy tidak pelit ilmu.

Dalam sesi workshop dan tanya jawab yang diadakannya, dia bahkan enggak segan menjelaskan soal seluk beluk usahanya sampai ke penghitungan biaya produksi. Pria yang sering mengadakan seminar serta penyuluhan soal edukasi daur ulang sampah ke berbagai kampus dan sekolah ini juga berpesan, bagi mereka yang ingin melakoni bisnis daur ulang sampah untuk berani ambil risiko dan enggak boleh terlalu perhitungan. “Kalau jadi pengusaha itu jelas pasti ada untung-rugi, cuma kita percaya aja sama ketetapan Allah, misal ada karyawan kita yang susah, ya kita bantu, itu anggap aja sedekah,” ujarnya. Menjadi sosok humanis memang selalu ditekankan Baedowy dalam menjalankan usahanya. Dia percaya, selain materi, ada modal yang lebih penting yaitu nilai sosial dan relasi dengan masyarakat.

 

Kisah Menyedihkan Seorang Ibu Yang Tidak Dipedulikan Anaknya

Mother and Son

Kisah Menyedihkan Seorang Ibu Yang Tidak Dipedulikan Anaknya – Diceritakan seorang ibu yang suaminya telah meninggal yang datang untuk mengunjungi sang anak. Tetapi sang anak tidak peduli, ia sibuk sendiri dengan pekerjaan dan pergaulannya tapi sang ibu tetap sabar dengan semua itu. Serta merapikan semua ruangan dan memasakkan makanan setiap saat.

Menunggu Anaknya

Pada suatu malam sang ibu tertidur di sofa sambil menunggu anaknya yang belum juga pulang. Kemudian setelah sang anak pulang, ia melihat sebuah foto ditangan ibunya. Yang mana foto tersebut adalah foto masa kecil sang anak menjadi seorang biksu bersama ibunya.

Baca Juga : Belajar Digital Marketing Dan Bisnis Online Sampai Menghasilkan

Menyadarkan Anaknya

Kemudian foto tersebut menyadarkan sang anak bahwa orang tua tidak pernah lelah memberikan cinta dan kasih sayang terus menerus kepada anaknya. Masih banyak harapan harapan orang tua yang sering kali kita bantah. Tetapi semua harapan tersebut memiliki satu jawaban yang pasti yaitu ingin anaknya menjadi orang yang lebih baik.

 

error: Content is protected !!